3.1
Analisis Struktural
3.1.1
Unsur Intrinsik Novel Pintu karya Fira Basuki
a.
Judul
Novel ini menceritakan petualangan
seorang lelaki, Djati Suryo Wibowo yang selalu dikatakan ‘anak istimewa’. Djati
Suryo Wibowo yang akrab disapa Bowo, Bo atau B, terlahir sebagai bayi kuning
pada saat weton Sabtu Pahing, dan memiliki neptu Jawa tertinggi ini
konon tandanya Bowo bukanlah orang biasa. Anda percaya semua ini? Tidak mudah
juga mengelak anggapan orang bahwa ia memang anak yang istimewa. Bagaimana
tidak, ketika berumur setahun kepandaiannya sudah menyamai anak berumur tiga
tahun. Hal-hal yang tak kasat mata pun sudah dialaminya sampai-sampai ia
mempunyai teman yang berbeda dunia bernama Jelintang pada usia tiga tahun.
Sosok Bowo tidak akan terlepas
adanya sosok Yangti. Walaupun Bowo mempunyai adik (June) yang sangat cantik dan
ceria serta adanya Mama dan Papa yang bijaksana, tetapi pengalaman hidup Bowo
tidak akan lengkap tanpa adanya sosok Yangti. Tentu saja Yankti juga mempunyai
pengalaman batin yang luar biasa. Sosok nenek ini selalu menasehati Bowo dengan
menembang seakan suaranya merasuk seiring dengan maknanya sendiri.
Novel ini adalah salah satu karya
Fira Basuki selain Jendela-jendela. Judul ini sangat menarik pembaca, pembaca
akan merasa penasaran dan berkeinginan besar untuk membacanya. Mulai dari pintu
gerbang, pintu batin sampai pintu hati menggambarkan secara jelas mengenai
cerita pada masing-masing makna pintunya.
b. Tema
Novel Pintu karya Fira
Basuki mengngkat tema tentang spiritual. Yaitu tentang petualangan seorang
lelaki yang memiliki mata ketiga atau indra keenam, yang menyebabkan ia menjadi
bagian dari dunia nyata maupun yang tak kasat mata. Melalui novel Pintu Fira
membukakan dunia spiritual yang kadang tidak masuk akal dan tidak dapat
dinalar, di mana perubahan waktu bisa terjadi di alam lain. Dunia leluhur yang
dapat ditelusuri lewat jalur omongan “Yang Ti”, ataupun pengalaman pribadi.
Kemudian juga kelebihan-kelabihanpada tokoh utama “Bowo” pada dunia spiritual
(dunia kasat mata) ditekankan oleh pengarang
·
Tema minor adalah
tema tambahan yang terdapat dalam bagian-bagian cerita. Dalam novel Pintu ini,
tema minor mengungkapkan tentang Proses dalam mencari jati diri yang
di alami oleh tokoh utama.
·
Tema mayor adalah
tema yang mendasari sebuah cerita secara keseluruhan. Tema mayor dari novel
Pintu mengungkapkan bahwa pengelanaan spiritual tokoh utama dalam mencari jati
diri.
c. Tokoh dan Perwatakan
Ø Tokoh
Tokoh Utama
Tokoh
utama dalam novel Pintu karya Fira Basuki adalah “Bowo” yang memiliki nama
lengkap Djati Suryo Wibowo subagio Tokoh Bowo dalam novel ini memiliki sifat
atau watak keras kepala, bandel dan suka suka. “Atau ,mungkinkah ini semua
karena ulahku yang memang terlalu ekspresif dan suka-suka”(halaman12).
Pada
waktu memasuki masa puber Bowo selalu berbuat sesuka hati tanpa menghiraukan
keadaan. Misalnya pada saat berangkat sekolah mengenakan sepatu roda dan
memakai pergelangan lonceng di kakinya. Selain itu Bowo juga bersifat nakal,
egois dan tidak pernah merasa jera. “Aku memang nakal dan egois” (halaman13)
“apakah aku kapok? Hm…..kapok? manabisa
(halaman 21).
Tokoh
Bowo digambarkan juga sebagai tokoh yang memliki kelebihan atau berbakat dalam
dunia kebatinan. Dengan kelebihan itu Bowo mempunyai pengalaman spiritual dalam
petualangannya. “Inikah yang disebut indra keenam? Aku memang sering melihat
jin, roh, hantu….. atau apalah namanya”
Tokoh Bawahan
Tokoh bawahan merupakan pendukung tokoh utama. Tokoh bawahan pada novel
Pintu karya Fira Basuki yaitu papa, mama, Putri, Erna, Yangti,
june, Jigme, Adi, Paris, Jeliteng, H. Brewok, Udel, Dodi, Anna.
Ø Perwatakan
Setiap
tokoh dalam novel memiliki watak tertentu sesuai dengan peran yang dikehendaki
pengarang. Kenney (1966:28) berpendapat bahwa ada dua macam watak, yaitu watak
datar( flat karakter) dan watak bulat ( round karakter). Watak datar yaitu
watak tokoh yang tidak mengalami perubahan dari awal sampai akhir cerita. Watak
bulat yaitu watak tokoh mengalami perubahan selama cerita berlangsung.
Cerita-cerita klasik dan tradisional pada umumnya menampilkan tokoh-tokoh
cerita yang berwatak datar. Demikian pula tokoh-tokoh dalam novel Pintu. Hal
tersebut terbukti pada data berikut:
1). Bowo :
Tokoh utama yang berwatak nakal, egois, bandel dan keras kepala
2).
June : Tokoh
bawahan yang berwatak datar, yaitu: baik hati
3).
Putri : baik hati
dan penyabar
4).
Erna : suka fitnah
5).
Yangti : baik
6).
Jigme : baik dan
penuh perhatian
7).
Adi : baik, saling
membantu
8).
Paris : cantik,
putih dan baik hati
9).
Jeliteng : baik
10).
H. Brewok : keras dan baik
11).
Udel : baik hati
12).
Dodi : baik hati dan
suka membantu
13).
Anna : baik hati
14).
Papa : baik dan sabar
15).
Mama : baik dan sabar
d.
Konflik
Konflik yaitu suasana yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi atau
dialami oleh tokoh cerita. Dalam novel PINTU karya Fira Basuki
konflik batin yang dialami Bowo ketika mengetahui adanya kekuatan yang
dimilikinya dan mengharuskannya mendatangi daerah yang tidak diketahuinya dan
semua yang dilaluinya seakan hanya mimpi namun semua itu betul adanya. Selain
itu juga konflik yang dialami pada saat menjalani hubungan bersama Erna yang
pada akhirnya diketahui oleh teman-temannya jika iya dikirimi ilmu hitam dan
membuatnya bermasalah dengan keluarganya akibat perilaku Erna.
e.
Alur
Alur merupakan susunan
cerita. Setiap pengarang mempunyai cara untuk menyusun ceritanya. Menurut
Oemarjati (1967) menyatakan alur adalah struktur penyusunan kejadian-kejadian
dalam cerita yang disusun secara logis dan rangkaian kejadian itu saling
terjalin dalam hubungan kausalitas. Tasrif (1981) membagi alur menjadi lima
bagian yaitu Situation, generating circumstances, rising action, climax, dan
denouement. Alur yang terdapat pada novel Pintu karya Fira Basuki merupakan
alur maju.
f.
Latar
konteks terjadinya
peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku. Peristiwa
dalam cerita harus tergambar dengan jelas lokasi dan waktu. Penyajian latar
yang berhasil dapat menciptakan warna kedaerahan yang kuat sehingga dapat
menghidupkan cerita (Lubis, 1981:21). Menurut Pradopo (1975/1976:37) membagi
aspek latar berdasarkan fungsinya menjadi lima bagian. Kelima fungsi tersebut
adalah:
1.
Tempat terjadinya peristiwa;
2.
Lingkungan kehidupan;
3.
Sistem kehidupan, sesuai dengan
lingkungan kehidupan tokoh;
4.
Alat-alat atau benda-benda kehidupan;
5.
Waktu terjadinya peristiwa.
Seorang pengarang menggunakan latar
dalam karyanya dengan tujuan agar pembaca ikut merasakan dan menghayati semua
peristiwa, keadaan dan suasana yang diungkapkan dalam cerita. Latar yang
terdapat dalam novel Pintu karya Fira Basuki sebagai berikut:
a. Latar Tempat
Novel
Pintu karya Fira Basuki mempunyai setting yang berfariasi, artinya tidak hanya
satu atau dua tempat saja. Cerita di dalamnya memiliki setting enam tempat
yaitu: Jogjakarta, Surabaya, Batu dan Pujon, Malang, Jakarata, Singapura,
Chicago-AmerikaSerikat.
Tokoh utama “Bowo” selalu berperan di dalam setiap setting tersebut, petualanganya dalam kehidupan nyata maupun kasat mata. Seperti pada setting di Batu – Pujon, Malang. Bowo memasuki dunia kasat mata di mana pada saat itu perubahan waktu bisa berbeda di alam sana.
Tokoh utama “Bowo” selalu berperan di dalam setiap setting tersebut, petualanganya dalam kehidupan nyata maupun kasat mata. Seperti pada setting di Batu – Pujon, Malang. Bowo memasuki dunia kasat mata di mana pada saat itu perubahan waktu bisa berbeda di alam sana.
b. Latar Waktu
Latar
waktu dalam novel Pintu karya Fira Basuki yaitu pada saat malam hari, pagi hari.
g.
Gaya Bahasa
Gaya
bahasa yang digunakan Fira dalam novelnya yang ditulis dengan bahasa yang
lancar sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu juga dapat memikat
pembaca karena ada berbagai faktor kebetulan yang digunakan untuk merangkai
peristiwa-peristiwa itu. Sentuhan bahasa Jawa juga digunakan dalam novel ini. Istilah-istilah
Jawa yang sengaja digunakan Fira Basuki menjadi suatu hal yang menarik bagi
pembaca. Misalnya Mamayu hayuning bawono arinya memlihara kalestarian atau
keindahan dunia dan isinya. Ati suci jumbuhing kawula Gusti arinya keselarasan
hubungan antara sesama dan Tuhan pencipta alam semesta. Selain sentuhan kalimat
atau istilah Jawa, dalam novelnya Fira Basuki juga menambahkan bait-bait
tembang Jawa atau filsafat Jawa pada cerita di dalamnya.
h. Sudut
Pandang
Sudut
pandang menurut pengarang “Fira Basuki” dalam novelnya yang berjudul Pintu
menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu tokoh aku(Bowo). Di dalamnya
menceritakan tentang adat Jawa yang dipoleskan dalam cerita. Seperti halnya
dalam pernikahan seorang suku Jawa harus menikah juga dengan seorang dari suku
Jawa. Begitu juga pada unsur kejawen yang ditonjolkan pengarang. Kejawen selalu
identik dengan kebatinan dan spiritual. Oleh karena itu Fira megambil tema
spiritual dalam novelnya ini.
Bagus deh infonya. Sambil baca boleh ya Aku ikut promosi.
BalasHapusYa jangan dihapus deh harapannya. Terima kasih.
Yuk yang suka taruhan bola, gabung di 7meter.
Layanan taruhan bola yang profesional.
Hanya ada di Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter