Cari Blog Ini

Jumat, 12 Juli 2013

novel pintu karya Fira Basuki



3.1 Analisis Struktural
3.1.1 Unsur Intrinsik Novel Pintu karya Fira Basuki
a. Judul
Novel ini menceritakan petualangan seorang lelaki, Djati Suryo Wibowo yang selalu dikatakan ‘anak istimewa’. Djati Suryo Wibowo yang akrab disapa Bowo, Bo atau B, terlahir sebagai bayi kuning pada saat weton Sabtu Pahing, dan memiliki neptu Jawa tertinggi ini konon tandanya Bowo bukanlah orang biasa. Anda percaya semua ini? Tidak mudah juga mengelak anggapan orang bahwa ia memang anak yang istimewa. Bagaimana tidak, ketika berumur setahun kepandaiannya sudah menyamai anak berumur tiga tahun. Hal-hal yang tak kasat mata pun sudah dialaminya sampai-sampai ia mempunyai teman yang berbeda dunia bernama Jelintang pada usia tiga tahun.
Sosok Bowo tidak akan terlepas adanya sosok Yangti. Walaupun Bowo mempunyai adik (June) yang sangat cantik dan ceria serta adanya Mama dan Papa yang bijaksana, tetapi pengalaman hidup Bowo tidak akan lengkap tanpa adanya sosok Yangti. Tentu saja Yankti juga mempunyai pengalaman batin yang luar biasa. Sosok nenek ini selalu menasehati Bowo dengan menembang seakan suaranya merasuk seiring dengan maknanya sendiri.
Novel ini adalah salah satu karya Fira Basuki selain Jendela-jendela. Judul ini sangat menarik pembaca, pembaca akan merasa penasaran dan berkeinginan besar untuk membacanya. Mulai dari pintu gerbang, pintu batin sampai pintu hati menggambarkan secara jelas mengenai cerita pada masing-masing makna pintunya.

b. Tema
Novel Pintu karya Fira Basuki mengngkat tema tentang spiritual. Yaitu tentang petualangan seorang lelaki yang memiliki mata ketiga atau indra keenam, yang menyebabkan ia menjadi bagian dari dunia nyata maupun yang tak kasat mata. Melalui novel Pintu Fira membukakan dunia spiritual yang kadang tidak masuk akal dan tidak dapat dinalar, di mana perubahan waktu bisa terjadi di alam lain. Dunia leluhur yang dapat ditelusuri lewat jalur omongan “Yang Ti”, ataupun pengalaman pribadi. Kemudian juga kelebihan-kelabihanpada tokoh utama “Bowo” pada dunia spiritual (dunia kasat mata) ditekankan oleh pengarang
·         Tema minor adalah tema tambahan yang terdapat dalam bagian-bagian cerita. Dalam novel Pintu ini, tema minor mengungkapkan tentang Proses dalam mencari jati diri yang di alami oleh tokoh utama.
·         Tema mayor adalah tema yang mendasari sebuah cerita secara keseluruhan. Tema mayor dari novel Pintu mengungkapkan bahwa pengelanaan spiritual tokoh utama dalam mencari jati diri.
c. Tokoh dan Perwatakan
Ø  Tokoh
Tokoh Utama
Tokoh utama dalam novel Pintu karya Fira Basuki adalah “Bowo” yang memiliki nama lengkap Djati Suryo Wibowo subagio Tokoh Bowo dalam novel ini memiliki sifat atau watak keras kepala, bandel dan suka suka. “Atau ,mungkinkah ini semua karena ulahku yang memang terlalu ekspresif dan suka-suka”(halaman12).
Pada waktu memasuki masa puber Bowo selalu berbuat sesuka hati tanpa menghiraukan keadaan. Misalnya pada saat berangkat sekolah mengenakan sepatu roda dan memakai pergelangan lonceng di kakinya. Selain itu Bowo juga bersifat nakal, egois dan tidak pernah merasa jera. “Aku memang nakal dan egois” (halaman13) “apakah aku kapok? Hm…..kapok?  manabisa (halaman 21).
Tokoh Bowo digambarkan juga sebagai tokoh yang memliki kelebihan atau berbakat dalam dunia kebatinan. Dengan kelebihan itu Bowo mempunyai pengalaman spiritual dalam petualangannya. “Inikah yang disebut indra keenam? Aku memang sering melihat jin, roh, hantu….. atau apalah namanya”

            Tokoh Bawahan
Tokoh bawahan merupakan pendukung tokoh utama. Tokoh bawahan pada novel Pintu karya Fira Basuki yaitu papa, mama, Putri, Erna, Yangti, june, Jigme, Adi, Paris, Jeliteng, H. Brewok, Udel, Dodi, Anna.

Ø  Perwatakan
Setiap tokoh dalam novel memiliki watak tertentu sesuai dengan peran yang dikehendaki pengarang. Kenney (1966:28) berpendapat bahwa ada dua macam watak, yaitu watak datar( flat karakter) dan watak bulat ( round karakter). Watak datar yaitu watak tokoh yang tidak mengalami perubahan dari awal sampai akhir cerita. Watak bulat yaitu watak tokoh mengalami perubahan selama cerita berlangsung. Cerita-cerita klasik dan tradisional pada umumnya menampilkan tokoh-tokoh cerita yang berwatak datar. Demikian pula tokoh-tokoh dalam novel Pintu. Hal tersebut terbukti pada data berikut:
1). Bowo                     : Tokoh utama yang berwatak nakal, egois, bandel dan keras kepala
            2). June                        : Tokoh bawahan yang berwatak datar, yaitu: baik hati
            3). Putri                       : baik hati dan penyabar
            4). Erna                       : suka fitnah
            5). Yangti                    : baik
            6). Jigme                      : baik dan penuh perhatian
            7). Adi                         : baik, saling membantu
            8). Paris                       : cantik, putih dan baik hati
            9). Jeliteng                   : baik
            10). H. Brewok           : keras dan baik
            11). Udel                     : baik hati
            12). Dodi                     : baik hati dan suka membantu
            13). Anna                    : baik hati
            14). Papa                     : baik dan sabar
            15). Mama                   : baik dan sabar

d. Konflik
Konflik yaitu suasana yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh cerita.  Dalam novel PINTU karya Fira Basuki konflik batin yang dialami Bowo ketika mengetahui adanya kekuatan yang dimilikinya dan mengharuskannya mendatangi daerah yang tidak diketahuinya dan semua yang dilaluinya seakan hanya mimpi namun semua itu betul adanya. Selain itu juga konflik yang dialami pada saat menjalani hubungan bersama Erna yang pada akhirnya diketahui oleh teman-temannya jika iya dikirimi ilmu hitam dan membuatnya bermasalah dengan keluarganya akibat perilaku Erna.

e. Alur
Alur merupakan susunan cerita. Setiap pengarang mempunyai cara untuk menyusun ceritanya. Menurut Oemarjati (1967) menyatakan alur adalah struktur penyusunan kejadian-kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dan rangkaian kejadian itu saling terjalin dalam hubungan kausalitas. Tasrif (1981) membagi alur menjadi lima bagian yaitu Situation, generating circumstances, rising action, climax, dan denouement. Alur yang terdapat pada novel Pintu karya Fira Basuki merupakan alur maju.

f. Latar
konteks terjadinya peristiwa dalam cerita atau lingkungan yang mengelilingi pelaku. Peristiwa dalam cerita harus tergambar dengan jelas lokasi dan waktu. Penyajian latar yang berhasil dapat menciptakan warna kedaerahan yang kuat sehingga dapat menghidupkan cerita (Lubis, 1981:21). Menurut Pradopo (1975/1976:37) membagi aspek latar berdasarkan fungsinya menjadi lima bagian. Kelima fungsi tersebut adalah:
1.      Tempat terjadinya peristiwa;
2.      Lingkungan kehidupan;
3.      Sistem kehidupan, sesuai dengan lingkungan kehidupan tokoh;
4.      Alat-alat atau benda-benda kehidupan;
5.      Waktu terjadinya peristiwa.
Seorang pengarang menggunakan latar dalam karyanya dengan tujuan agar pembaca ikut merasakan dan menghayati semua peristiwa, keadaan dan suasana yang diungkapkan dalam cerita. Latar yang terdapat dalam novel Pintu karya Fira Basuki sebagai berikut:
a.      Latar Tempat
Novel Pintu karya Fira Basuki mempunyai setting yang berfariasi, artinya tidak hanya satu atau dua tempat saja. Cerita di dalamnya memiliki setting enam tempat yaitu: Jogjakarta, Surabaya, Batu dan Pujon, Malang, Jakarata, Singapura, Chicago-AmerikaSerikat.
Tokoh utama “Bowo” selalu berperan di dalam setiap setting tersebut, petualanganya dalam kehidupan nyata maupun kasat mata. Seperti pada setting di Batu – Pujon, Malang. Bowo memasuki dunia kasat mata di mana pada saat itu perubahan waktu bisa berbeda di alam sana.
b.      Latar Waktu
Latar waktu dalam novel Pintu karya Fira Basuki yaitu pada saat malam hari, pagi hari.




g. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan Fira dalam novelnya yang ditulis dengan bahasa yang lancar sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu juga dapat memikat pembaca karena ada berbagai faktor kebetulan yang digunakan untuk merangkai peristiwa-peristiwa itu. Sentuhan bahasa Jawa juga digunakan dalam novel ini. Istilah-istilah Jawa yang sengaja digunakan Fira Basuki menjadi suatu hal yang menarik bagi pembaca. Misalnya Mamayu hayuning bawono arinya memlihara kalestarian atau keindahan dunia dan isinya. Ati suci jumbuhing kawula Gusti arinya keselarasan hubungan antara sesama dan Tuhan pencipta alam semesta. Selain sentuhan kalimat atau istilah Jawa, dalam novelnya Fira Basuki juga menambahkan bait-bait tembang Jawa atau filsafat Jawa pada cerita di dalamnya.

h. Sudut Pandang
Sudut pandang menurut pengarang “Fira Basuki” dalam novelnya yang berjudul Pintu menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu tokoh aku(Bowo). Di dalamnya menceritakan tentang adat Jawa yang dipoleskan dalam cerita. Seperti halnya dalam pernikahan seorang suku Jawa harus menikah juga dengan seorang dari suku Jawa. Begitu juga pada unsur kejawen yang ditonjolkan pengarang. Kejawen selalu identik dengan kebatinan dan spiritual. Oleh karena itu Fira megambil tema spiritual dalam novelnya ini.

1 komentar:

  1. Bagus deh infonya. Sambil baca boleh ya Aku ikut promosi.
    Ya jangan dihapus deh harapannya. Terima kasih.

    Yuk yang suka taruhan bola, gabung di 7meter.
    Layanan taruhan bola yang profesional.
    Hanya ada di Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    BalasHapus